Kegiatan IDERU
IDERU Payakumbuh Berbagi Ilmu Pertolongan Pertama untuk Relawan
Pagi itu, 1 November 2025, langit Bukittinggi terasa lebih sejuk dari biasanya. Di halaman Balaikota, beberapa relawan sudah datang lebih cepat dari jadwal. Mereka saling menyapa, sebagian membawa buku catatan, dan sebagian lainnya terlihat antusias menebak-nebak apa yang akan dipelajari hari itu.
Di antara para relawan itu, hadir tiga pemateri dari IDERU Payakumbuh:
Ricci Anggriyawan, Delno Cahayadi Putra, dan Aldo Danu Pratama.
Ketiganya datang dengan satu misi yang sama: membekali relawan Simpul Relawan Indonesia (SRI) – IZI dengan kemampuan pertolongan pertama yang praktis dan mudah diterapkan di lapangan.
Awal yang Hangat dan Penuh Semangat
Tepat pukul 08.00 WIB, pelatihan dimulai. Suasana ruang pertemuan terasa hidup ketika pemateri memperkenalkan diri sambil menyampaikan tujuan utama kegiatan. Sejak awal, para relawan mendengarkan dengan penuh perhatian—mereka tahu bahwa ilmu hari itu bukan sekadar teori, tetapi bisa menjadi penentu keselamatan seseorang dalam situasi darurat.
Ricci membuka sesi dengan mengingatkan bahwa dalam dunia kebencanaan, “ketenangan dan kecepatan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.” Kalimat itu langsung mencuri fokus peserta.
Tiga Sesi, Tiga Pengalaman Baru
🔹 Sesi 1 – Memahami Esensi Pertolongan Pertama
Sesi pertama dibawakan menggunakan kisah nyata dari lokasi kejadian di masa lalu. Pemateri mengajak peserta membayangkan kondisi lapangan yang seringkali penuh tekanan. Dengan contoh-cotoh konkret, peserta diajak memahami prinsip dasar pertolongan pertama—mulai dari memastikan keselamatan penolong, membaca situasi, hingga menentukan tindakan yang benar di detik-detik awal.
Beberapa peserta terlihat mengangguk-angguk, seolah mengingat pengalaman serupa yang pernah mereka jumpai.
🔹 Sesi 2 – Mengenal Tubuh Manusia dengan Cara yang Tidak Rumit
Sesi berikutnya masuk ke materi anatomi dan faal, sesuatu yang biasanya dianggap rumit. Namun pagi itu, penjelasan dibuat sederhana. Delno menggunakan analogi sehari-hari dan beberapa emoji sebagai ilustrasi kecil untuk memudahkan gambaran peserta.
Ada momen lucu ketika salah satu analogi membuat peserta tertawa, tapi justru itulah yang membuat mereka semakin memahami fungsi dasar tubuh manusia.
🔹 Sesi 3 – Penilaian Dini: Detik-Detik yang Menentukan
Sesi terakhir menjadi yang paling interaktif. Peserta diajak melakukan simulasi skenario darurat. Mereka belajar menilai kondisi korban secara cepat: apakah napasnya masih ada? Apakah kesadarannya menurun? Tindakan apa yang harus dilakukan pertama?
Dalam simulasi itu, suasana sempat terasa tegang—tetapi di situlah pelajaran terpenting muncul: ketepatan penilaian dini bisa menyelamatkan nyawa.
Cerita dari Para Relawan
Selama 2 jam 30 menit, diskusi berlangsung dengan hangat.
- Ada 5 pertanyaan yang memancing penjelasan mendalam.
- 10 peserta aktif memberikan tanggapan.
- 3 orang berbagi pengalaman nyata mereka saat menghadapi situasi darurat di lapangan.
Cerita-cerita itu membuat pelatihan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para relawan.
Pemateri pun merespons dengan cepat, memberikan apresiasi pada setiap partisipasi. Dari situ terlihat jelas bahwa sesi ini bukan hanya kelas, tetapi ruang saling belajar.
Sebuah Awal, Bukan Akhir
Sebelum kegiatan berakhir, pemateri merangkum inti dari ketiga sesi dalam pesan singkat yang mudah diingat. Para peserta diminta mencatat kembali hal-hal penting dan—yang tidak kalah penting—menyimpan kontak darurat yang diberikan.
Suasana penutupan terasa hangat. Ada rasa puas karena mendapatkan ilmu baru, dan ada harapan besar untuk sesi lanjutan di masa mendatang.
IDERU menutup kegiatan dengan ucapan terima kasih, sembari berdoa agar para relawan selalu diberi kekuatan dalam mengabdi untuk kemanusiaan.