Perubahan Iklim
Ketika Banjir Mengubah Perumahan Menjadi Lautan
Banjir datang bukan sebagai tamu, ia datang sebagai pengingat. ketika banyak perumahan mendadak berubah menjadi lautan, kita sebenarnya tahu, ada sesuatu yang salah, ada yang tidak beres, sayangnya kebanyakan kita memilih diam dan cenderung menyalahkan apapun atau siapapun yang bisa disalahkan.
Di Sukawangi, Bekasi, air naik lebih dari satu setengah meter. Di Perumahan Nebraska dan Green Lavender, rumah seakan berubah menjadi pulau kecil, jalanan lenyap, dan warga terpaksa bertahan hidup di tengah genangan yang lebih pantas disebut laut daripada banjir. Anak-anak mulai diangkut ke perahu karet, orang tua menatap pilu rumahnya dari kejauhan, dan malam datang tanpa kepastian kapan air surut datang menjelang.
Ini bukan sekedar hujan luar biasa.
Bukan pula sekedar bencana yang datang tiba-tiba.
Ini adalah hasil dari rangkaian keputusan, yang tidak pernah benar-benar mau diselesaikan.
Backwater Effect
Ketika muka air laut lebih tinggi dari daratan, dan aliran air ke hilir jadi tertahan, terjadilah fenomena yang dinamakan backwater effect.
Air tidak bisa mengalir keluar menuju laut, ia menumpuk di muara, dan antrian tumpukan air ini akan terus memanjang balik ke belakang, lalu tumpah ketika sungai dan tanggul sudah tidak lagi mampu menampungnya.
Sungai seakan berubah menjadi waduk dadakan, dan ketika ia meluap atau ada tanggul yang jebol, maka perumahan di sekitarnyalah yang akan menjadi korban pertama.
Ironisnya, peristiwa seperti ini selalu disebut musiman. Seolah banjir adalah tradisi tahunan yang harus diterima, bukan masalah struktural yang harus diselesaikan. Pemerintah datang membawa perahu, kamera, dan janji. Setelah air surut, yang tertinggal hanyalah lumpur dan ingatan. Janji pun ikut menguap bersama panas mentari yang kelak datang.
Mitigasi Harus Dimulai Sebelum Air Menyentuh Lantai
Di tengah kritik yang terus mengalir, tetap perlu dicatat bahwa tidak semua upaya berhenti pada wacana. Dalam beberapa waktu terakhir, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sudah menunjukkan langkah-langkah yang relevan di kawasan Bekasi dan sekitarnya, termasuk wilayah Kali CBL, Tambun, dan Babelan. Beliau mendorong koordinasi lintas daerah untuk membahas banjir sebagai satu sistem, bukan persoalan wilayah administratif semata. Ia juga menyoroti dan menekan praktik pembangunan yang menutup alur sungai serta keberadaan bangunan liar di bantaran, yang selama ini menjadi simpul sunyi penyebab luapan air.
Ia pun terlihat cukup responsif terhadap laporan warga, melakukan peninjauan langsung titik-titik penyempitan aliran, hingga mendorong penertiban tempat pembuangan sampah ilegal di bantaran sungai. Ini menunjukkan bahwa perhatian pemerintah terhadap persoalan tata air memang ada. Upaya-upaya ini patut diapresiasi sebagai langkah awal yang penting, sayangnya itu masih belum cukup untuk menahan banjir setinggi dada manusia.
Apresiasi seperti ini penting dan bukan dimaksudkan untuk memadamkan kritik, tetapi untuk menegaskan bahwa mitigasi bencana membutuhkan kesinambungan. Kerja positif yang sudah dimulai harus dijaga, diperluas, dan diselesaikan. Karena perhatian yang berhenti di tengah jalan hanya akan berubah menjadi catatan kaki, sementara air akan terus mencari jalannya sendiri.
Solusi Apa yang Tersedia?
Di wilayah seperti Sukawangi, beberapa solusi teknis sudah lama dikenal. Pintu air dan pompa di muara untuk mencegah air laut dan sungai bisa difokuskan untuk menahan. Membangun kolam retensi untuk menampung limpasan saat hujan dan pasang bertemu. Normalisasi sungai yang dilakukan rutin, dan audit serius terhadap izin perumahan yang dibangun di dataran rendah tanpa sistem drainase yang memadai.
Namun solusi-solusi seperti itu sepertinya sering dianggap terlalu mahal, terlalu lama, atau bahkan terlalu merepotkan. Jauh lebih mudah menganggarkan bantuan darurat daripada membangun sistem pencegah banjir. Jauh lebih praktis membagikan sembako daripada memperbaiki tata air. Lagipula, banjir bisa difoto. Sedangkan pintu air dan pompa tidak terlalu menarik di kamera.
Pada akhirnya warga dipaksa belajar bertahan secara mandiri, tanpa benar-benar mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, jangankan pelatihan mitigasi, sekedar ada instansi yang memantau sebelum bencana terjadi, kenyataannya tak pernah ada hingga kini. Haruskah relawan yang memulai semua ini?
Ketidak-tahuan Adalah Awal Dari Kepanikan
Ketika masyarakat tidak paham apa yang terjadi, wajar saja jika mereka menuduh banyak hal tanpa bukti.
Mulai dari dari drainase yang tidak berfungsi, sampai meragukan rekayasa cuaca yang melawan kodrat ilahi. Mereka tidak salah dalam hal ini, mereka cuma tidak tahu dan belum mengerti, tugas kitalah yang memberi edukasi tentang hal ini.
Permukaan air laut yang makin meninggi adalah sebuah keniscayaan yang pasti terjadi. Jakarta, Bekasi, dan sekitarnya adalah zona merah dimana semua muara akan kesulitan mengalirkan airnya karena tertahan backwater effect tadi.
Pada akhirnya masyarakat hanya bisa pasrah, yang bisa mereka lakukan hanyalah meninggikan lantai rumah, menyimpan barang di loteng, dan mematikan listrik lebih cepat dari biasanya.
Mereka tidak lagi bertanya apakah banjir akan datang. Pertanyaan yang lebih sering keluar sekarang adalah, akan setinggi apa datangnya air kali ini?
Banjir di Nebraska dan Green Lavender bukanlah sekadar genangan. Ini adalah cermin dari kegagalan perencanaan.
Satire paling pahit dari semua ini adalah, ketika banjir setinggi dada manusia mulai disebut wajar. Ketika warga harus berterima kasih karena dievakuasi dari bencana yang seharusnya bisa dicegah. Ketika air setinggi laut malah dianggap nasib, bukan karena faktor sebab-akibat.
Mungkin memang harus relawan yang bergerak, sentil dikit kanan-kiri agar semua tersadar apa yang sebenarnya terjadi.
Karena mitigasi bukan tentang reaksi.
Mitigasi adalah tentang keberanian mengambil keputusan yang tidak populer, sebelum jatuh banyak korban di negeri ini.
Selama banjir masih dianggap sekedar berita, maka air akan selalu menemukan jalannya.
Dan mirisnya, warga Sukawangi mungkin harus terpaksa belajar berenang di halaman rumahnya sendiri.
* Irvan / 00-003 (Editor in Chief)
