Kegiatan IDERU

Pray for Sumatera: Duka Bersama, Aksi Bersama

Published

on

“PRAY SUMATERA” — ungkapan yang terpampang dalam poster IDERU ini menunjukkan sebuah seruan solidaritas yang mendalam: Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara (termasuk Medan, Sibolga, dan sekitarnya) tengah menghadapi cobaan besar. Kombinasi hujan deras, banjir bandang, dan longsor telah menimbulkan krisis kemanusiaan dengan dampak masif. Poster ini berbicara banyak: bukan hanya tentang kerusakan fisik dan kerugian materi, tetapi juga tentang kehilangan, trauma, dan rasa kemanusiaan bersama.

Di tengah reruntuhan dan lumpur — tangan terlipat dalam doa — kita diingatkan bahwa bencana ini bukan sekadar soal air yang tergenang, melainkan soal sesama manusia yang terombang-ambing oleh elemen alam.


Kronologi Kejadian

Hujan Lebat & Curah Hujan Tinggi Memicu Banjir

Menurut laporan dari pusat krisis di Aceh, banjir dipicu oleh hujan deras selama berhari-hari. Di banyak wilayah di Aceh — misalnya Aceh Utara, Aceh Timur — hujan intens berkelanjutan menyebabkan sungai meluap. (BNPB)

  • Di Kabupaten Aceh Utara, banjir merendam pemukiman, sawah, tambak — dan memaksa Pemerintah daerah menetapkan Status Siaga Darurat sejak 23 November 2025. (BNPB)
  • Di Aceh Timur, hujan disertai angin kencang membuat beberapa sungai meluap kembali, menyebabkan genangan antara 10–40 cm di beberapa kawasan. (BNPB)

Sementara itu, di wilayah Sumatera Utara, terutama di kota Sibolga serta kawasan Tapanuli (Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan sekitarnya), hujan deras memicu banjir bandang dan longsor. (Jacksonville Journal-Courier)

Rivers burst banks; air, lumpur, batang pohon, dan puing-puing rumah terseret deras. Banyak desa, rumah, sekolah, kantor — bahkan infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan — hancur atau terendam. (Al Jazeera)

Dampak & Evakuasi Darurat

Banjir dan longsor melumpuhkan kehidupan sehari-hari — akses jalan terputus, listrik padam, telekomunikasi terganggu, distribusi bantuan sulit. (AP News)

Di Aceh, ribuan warga terdampak: sawah, tambak, pemukiman dan fasilitas umum terendam. Contohnya, di wilayah terdampak di Aceh, lebih dari 4.555 warga terdampak, dengan ratusan harus dievakuasi. (marcanews.asia)

Di Medan, kawasan perkotaan sempat kebanjiran — meskipun skala tidak sebesar di Sibolga atau Aceh — akibat hujan lebat yang memuncak pada awal Oktober 2025. Sebanyak ribuan warga terdampak dan ratusan rumah tergenang. (BNPB)

Pemerintah, melalui BNPB (dan BPBD setempat), membentuk pos-pos pengungsian, menyiagakan tim SAR dan penyelamatan — serta mendirikan shelter, saluran logistik, distribusi pangan dan perlengkapan darurat. (Antara News)


Korban Terbaru & Skala Kerusakan

Menurut data per 28 November 2025:

  • Di Aceh: 6 orang meninggal dunia, 11 masih hilang. Khususnya di Kabupaten Bener Meriah (5 meninggal, 9 hilang), dan Kabupaten Gayo Lues (1 meninggal, 9 hilang). (BNPB)
  • Di Sumatera Utara: total korban meninggal 55 orang, 41 hilang. Distribusi: Tapanuli Tengah 34 meninggal, 33 hilang; Tapanuli Selatan 13 meninggal, 3 hilang; Pakpak 1 meninggal; Tapanuli Utara 3 meninggal, 5 hilang; dan koreksi di Humbang Hasundutan. (BNPB)

Di wilayah Sibolga dan Tapanuli, dilaporkan 19 orang meninggal dan 24 orang dalam pencarian. (detiknews)

Skala kerusakan sangat luas: ribuan rumah terendam atau rusak, infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan rusak atau jebol, fasilitas umum — sekolah, peribadatan, kantor — banyak yang terendam. Lahan pertanian — sawah dan tambak — ikut terdampak, yang berarti kehilangan sumber mata pencaharian bagi petani dan nelayan. (marcanews.asia)

Lebih jauh, menurut laporan media nasional, total korban bencana (meninggal, hilang, dan pengungsi) di Provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar telah mencapai angka yang sangat besar — bencana ini telah memicu desakan agar pemerintah menetapkan status bencana nasional. (Liputan6)


Mengapa Bencana Ini Bisa Terjadi?

Fenomena kompleks — tidak bisa disederhanakan hanya sebagai “hujan deras saja”. Berikut beberapa faktor penyebab:

1. Hujan Deras & Curah Hujan Ekstrem dalam Waktu Lama

Badan penanggulangan bencana di Aceh melaporkan hujan intens terjadi selama hari-hari berturut-turut — menyebabkan sejumlah sungai meluap, aliran tak tertampung, dan akhirnya banjir meluas. (marcanews.asia)

2. Topografi & Kerentanan Geografis

Beberapa wilayah di Sumatera — terutama di pesisir, dataran rendah, dekat sungai, atau di lereng — rentan terhadap banjir dan longsor. Kombinasi hujan ekstrem dengan kerentanan geografis ini memperbesar risiko. (Al Jazeera)

3. Infrastruktur & Sistem Mitigasi yang Kurang Memadai

Dari laporan sebelumnya: kolam retensi di beberapa bagian kota — misalnya di Medan — dipertanyakan efektivitasnya. Proyek besar sudah dilaksanakan, tetapi saat hujan lebat, genangan air tetap tinggi. (Reddit)
Artinya, meski ada upaya mitigasi, perubahan iklim, curah hujan ekstrem, dan urbanisasi bisa membuat sistem lama gagal.

4. Cuaca Ekstrem & Kemungkinan Dampak Siklon / Sistem Atmosferik

Menurut laporan internasional, banjir dan longsor kali ini dipicu oleh intensitas hujan luar biasa — di beberapa tempat, kondisi dipicu oleh siklon tropis yang menggulung wilayah pantai dan pulau-pulau Sumatera. (PT. Kontan Grahanusa Mediatama)


Tanggapan & Aksi: Bagaimana Pemerintah dan Negara Menyikapi

Pemerintah pusat bergerak cepat — beberapa kementerian dan lembaga telah dikerahkan untuk menangani bencana ini. (Antara News)

  • Tim respons darurat dibentuk, termasuk personel SAR dari Basarnas, tim kesehatan, sosial, infrastruktur. (Antara News)
  • Di Sibolga, tim cepat tanggap dari kementerian menjalankan assesmen kerusakan setelah banjir dan longsor melanda. (Antara News)
  • Di Aceh, BPBD setempat aktif di pos-pos siaga, menyiagakan evakuasi, distribusi logistik, dan mendirikan shelter darurat. (BNPB)

Namun, skala bencana mendorong perdebatan dan tekanan politik: beberapa anggota legislatif mendesak agar pemerintah menetapkan “status bencana nasional” — bukan sekadar bencana daerah — untuk menjamin alokasi sumber daya yang memadai. (detiknews)
Kemungkinan modifikasi cuaca atau upaya mitigasi cuaca juga diusulkan sebagai langkah pencegahan bencana susulan. (detiknews)


Catatan & Tantangan ke Depan

  1. Akses & Logistik — Banyak daerah terisolasi: jalan terputus, jembatan rusak, listrik dan jaringan komunikasi padam. Ini menyulitkan distribusi bantuan dan evakuasi.
  2. Jumlah Korban & Pengungsi Masih Bisa Bertambah — Banyak orang masih hilang, dan angka resmi bisa meningkat seiring waktu, terutama saat tim SAR terus melakukan pencarian. (AP News)
  3. Kerusakan Infrastruktur & Mata Pencaharian — Lahan pertanian dan tambak rusak/terendam; rumah dan fasilitas umum hilang atau rusak. Pemulihan butuh waktu lama, biaya besar, dan dukungan berkelanjutan.
  4. Kebutuhan Darurat dan Jangka Panjang — Bantuan jangka pendek harus segera, namun bantuan jangka panjang untuk rehabilitasi, dukungan psikologis, pemulihan ekonomi, pemulihan lingkungan sangat diperlukan.
  5. Risiko Bencana Susulan — Dengan curah hujan ekstrem dan potensi cuaca buruk berikutnya, risiko banjir lanjut, longsor, atau bencana hidrometeorologi lain tetap tinggi. Diperlukan mitigasi, peringatan dini, kesiapsiagaan.

Dari Doa ke Aksi

Poster “PRAY SUMATERA” bukan sekadar kata — ini adalah panggilan kemanusiaan. Di balik doa yang tertulis: terdapat tanggung jawab moral kita bersama. Bencana di Aceh, Medan, Sibolga, dan wilayah Sumatera lainnya menuntut solidaritas, empati, dan aksi nyata.

Korban sudah banyak — ratusan jiwa meninggal atau hilang, ribuan mengungsi, rumah dan ladang hancur. Pemerintah dan lembaga resmi telah bergerak, namun skala bencana begitu besar sehingga membutuhkan dukungan dari semua pihak — organisasi kemanusiaan seperti IDERU sangat dibutuhkan.

Kini, saatnya dari doa menjadi tindakan. Membantu mereka yang kehilangan rumah, harta, bahkan keluarga — memulihkan kehidupan mereka, mengembalikan harapan, dan bersama-sama bangkit dari lumpur.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan memicu empati serta aksi nyata.

Jika Anda ingin mensupport team IDERU dalam membantu mereka yang membutuhkan, silahkan salurkan donasi Anda melalui:

Rekening Bank:

Bank Syariah Indonesia
Rek: 2022 0022 28 a.n IDERU

Kode bank (451)

Jangan lupa konfirmasikan donasi Anda tersebut ke nomor ini 0813-2710-6724

2 Comments

  1. Ayahnya Piko

    28/11/2025 at 9:03 pm

    Minta tolong kirimkan nomor rekening yaa, mungkin bisa turut membantu..

    • Ideru.Official

      28/11/2025 at 11:23 pm

      Sebelumnya kami ucapkan terima kasih untuk support dan atensinya.

      Jika Anda berkenan memberikan donasi, silahkan menyalurkannya melalui rekening resmi IDERU di:

      Bank Syariah Indonesia
      Rek: 2022 0022 28 a.n IDERU

      Kode bank (451)

      dan mohon konfirmasikan ke nomor ini setelah Anda melakukannya, agar kami bisa mendatanya dengan lebih baik.

      0813-2710-6724 (Mas Ulil) atau

      0812-8217-7962 (Mbak Yuli)

      Terima kasih, semoga segala kebaikan selalu mengiringi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version