Perubahan Iklim

Salju Turun di Tanah Papua

Published

on

Kemarin, saya membaca satu kabar dan tanpa sadar termenung agak lama.

Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan kaget, bukan juga tidak percaya. Lebih seperti jeda kecil yang membuat saya bertanya dalam hati, ada apa lagi yang sedang berubah di bumi tempat kita tinggal.

Salju turun di tanah Grasberg, Mimika, Papua.

Entah kenapa, rasanya tetap aneh. Ini terjadi di negeri kita yang dikenal dunia sebagai tanah tropis. Negeri dengan panas, hujan, dan matahari yang nyaris selalu setia menemani.

Di Tembagapura, awan menengah menyelimuti pegunungan. Suhu udara jatuh ekstrem. Hujan tidak turun sebagai air, melainkan sebagai kristal es. BMKG mencatat, fenomena ini bukan pertama kalinya. Sejak 2023, peristiwa serupa sudah beberapa kali terjadi.

Saya membayangkan, mungkin kalian bertanya hal yang sama.
Kenapa Papua bisa bersalju, sementara Jawa tidak.
Padahal gunung-gunung di Jawa banyak yang lebih tinggi.

Jawabannya membawa kita ke percakapan yang lebih dalam tentang bumi.

Salju tidak hanya soal ketinggian. Ketinggian hanyalah satu bagian kecil. Yang paling menentukan adalah suhu di lapisan atmosfer tempat hujan terbentuk. Di Grasberg, udara lembap dari Samudra Pasifik naik cepat dan menabrak pegunungan yang curam. Udara itu mendingin secara drastis. Di situlah hujan lahir sebagai es.

Papua memiliki kombinasi yang jarang. Pegunungan massif yang bukan gunung api aktif. Panas dari dalam bumi relatif kecil. Awan tebal menjulang tinggi. Sistem angin kuat yang bekerja terus-menerus.

Jawa berbeda. Gunung-gunungnya memang tinggi, tetapi banyak yang masih aktif secara vulkanik. Panas bumi terus mengalir dari bawah. Suhu puncak jarang turun mendekati nol. Hujan terbentuk di lapisan atmosfer yang lebih hangat. Saat jatuh ke permukaan, es sudah mencair.

Salju di Papua bukan keajaiban. Ia adalah anomali yang bisa dijelaskan secara ilmiah.

Namun justru di situ letak pesannya.

Perubahan iklim tidak datang dengan cara sederhana. Dunia tidak hanya menjadi lebih panas. Dunia menjadi lebih ekstrem. Kontras suhu makin tajam. Cuaca makin sulit ditebak. Dataran rendah semakin panas, sementara di ketinggian tertentu, pendinginan ekstrem bisa muncul pada waktu-waktu tertentu.

Itulah sebabnya, ke depan, salju di Papua mungkin saja muncul lebih sering. Bukan sebagai musim. Bukan sesuatu yang menetap. Melainkan kejadian singkat yang datang lalu pergi.

Dan di sini, kita mungkin perlu berhenti sejenak.

Karena salju di wilayah tropis bukan kabar yang patut dirayakan. Ia adalah pertanda bahwa atmosfer sedang tidak seimbang. Ia hadir bersama musim yang bergeser, hujan yang sulit diprediksi, ancaman gagal panen, dan bencana hidrometeorologi yang semakin sering.

Saya teringat pada banyak perjalanan kemanusiaan yang pernah kami jalani. Di lapangan, kami sering melihat tanda-tanda kecil datang lebih dulu. Hujan yang waktunya bergeser. Angin yang arahnya tak lagi sama. Air yang datang lebih cepat dari biasanya. Alam selalu memberi isyarat, jauh sebelum bencana benar-benar terjadi.

Di balik putihnya salju di Grasberg, ada pesan sunyi tentang bumi yang berubah lebih cepat dari kesiapan kita sebagai manusia.

Di titik inilah peran kemanusiaan menjadi terasa dekat.

IDERU hadir bukan hanya untuk merespons bencana yang sudah terjadi, melainkan juga selalu memantau dan membaca tanda-tanda awalnya.

Ketika alam mulai berbicara dengan bahasa ekstrem, tugas kita bukan sekadar mencatat, tetapi bersiap, menguatkan masyarakat, dan hadir sebelum keadaan berubah menjadi darurat.

Salju turun di tanah Papua, bukanlah sekedar cerita sensasi tentang dingin.

Ini adalah cerita tentang kewaspadaan.
Tentang tanggung jawab.
Tentang masa depan yang perlu kita jaga bersama.

Dan mungkin, tentang kepekaan kita untuk tidak melewatkan tanda-tanda kecil sebelum semuanya terlambat.

 

* Irvan / 00-003

 

https://x.com/akuratco/status/2016356809955803617

 

https://www.instagram.com/reels/DT-R88jk2d5/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version