Mitigasi Bencana
Cara Menyiapkan Ransum Makanan 1 Tahun dalam Mitigasi Keadaan Perang
Perang jarang datang dengan pengumuman. Ia datang pelan, lalu tiba-tiba hadir mengagetkan. Inilah alasan utama kenapa kita harus belajar cara menyiapkan ransum makanan.
Apa yang Akan Terjadi
Pada hari pertama toko masih banyak yang buka.
Di hari kedua rak toko mulai kosong.
Hari ketiga kepanikan mulai melanda.
Dan di hari keempat dst, orang orang berhenti bertanya soal harga dan mulai bertanya soal sisa.
Dalam hal kebencanaan, kami belajar satu hal lebih cepat dari yang lain.
Kelaparan tidak membunuh dengan suara keras.
Ia menggerogoti perlahan, dari energi, pikiran, lalu harapan.
Di situlah ransum mengambil peran.
Bukan sebagai makanan enak.
Bukan sebagai kenyamanan.
Tapi sebagai pengikat dan penyambung kehidupan.
Di IDERU kami sering menyebutnya bekal kesunyian.
Ia tidak banyak bicara, tapi memastikan tubuh tetap berdiri saat dunia runtuh.
Menyiapkan ransum satu tahun bukan berarti menimbun.
Ini adalah insting survival untuk “membeli” waktu.
Bentuk pertahanan diri dalam bentuk persediaan makanan.
Targetnya tidak banyak.
Sekedar mengupayakan tubuh bisa tetap bergerak.
Agar pikiran bisa tetap jernih.
Dan anak-anak bisa bangun pagi tanpa perut perih.
Setiap hari, satu orang membutuhkan setidaknya dua ribu lima ratus hingga tiga ribu kalori.
Kalau dikalikan satu tahun, itu hampir satu juta kalori.
Angka yang besar, tapi bisa dipecah menjadi keputusan kecil yang disiplin.
Karbohidrat adalah fondasi.
Beras, nasi kering, oat, singkong, jagung.
Makanan yang tidak rewel, tidak manja, dan bisa bertahan lama.
Di gudang logistik, karung beras bukan sekadar stok.
Ini bentuk lain pertahanan diri untuk asuransi hari esok.
Protein menyusul pelan pelan.
Abon kering, dendeng, ikan kaleng, kacang.
Bukan untuk tujuan kenyang, melainkan sekedar menjaga tubuh agar tidak runtuh.
Relawan tahu, tanpa protein, orang masih hidup, tapi tidak lagi kuat.
Lemak jangan diremehkan.
Ia adalah bahan bakar tubuh paling padat.
Minyak, margarin, selai kacang.
Sedikit beratnya, tapi besar nilainya.
Dalam kondisi udara dingin dan stres, lemak adalah penolong dalam diam.
Lalu ada yang kecil kecil, untuk menenangkan.
Garam.
Gula.
Kaldu.
Vitamin.
Kopi dan teh.
Di tenda pengungsian, secangkir kopi bukan lagi soal kafein.
Ia bisa menjelma menjadi penawar kedamaian di tengah kekacauan.
Pengemasan adalah hal yang tidak boleh dilupakan.
Makanan terbaik bisa gagal karena dua hal, udara dan air.
Ingat, semua makanan harus dalam keadaan kering.
Dan semua harus dalam keadaan dingin saat dikemas.
Diporsi kecil-kecil, untuk sekali makan, lalu divakum.
Kemudian simpan di tempat yang gelap dan sejuk.
Ransum satu tahun tidak disimpan dalam satu tempat.
Ia harus dibagi-bagi
Sebagian untuk hari ini.
Sebagian untuk minggu depan.
Sebagian lagi untuk hari yang bahkan belum berani dibayangkan.
Di lapangan, kesalahan paling mahal bukan kekurangan stok.
Melainkan terlalu percaya diri kalau keadaan akan segera membaik di hari esok.
Perang tidak memberi tenggat waktu.
Ia akan menguji kesabaran dan perencanaanmu.
Ransum yang cukup, tidak otomatis membuatmu merasa kaya.
Ia cuma membuat kita bisa bertahan tanpa rasa panik berlebihan di kepala.
Dan ketika hari-hari terpanjang akhirnya berlalu,
yang tersisa bukan lagi rasa makanan itu.
Tapi fakta bahwa kamu telah berhasil melewati satu tahun terberat dalam hidupmu.
Cara menyiapkan ransum makanan ini, memang bukan diniatkan untuk bisa hidup tenang.
Melainkan hanya untuk sekedar memastikan, bahwa masih ada yang hidup untuk meneruskan kehidupan.