Mitigasi Bencana
Gunung Sampah Ditutup Terpal: Solusi atau Menyimpan Risiko?
Belakangan ini, publik dihebohkan dengan langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mulai menutup sebagian gunungan sampah di TPST Bantargebang menggunakan media pelindung dan geomembrane sebagai bagian dari transisi menuju sistem controlled landfill.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi bau, menekan pembentukan air lindi, sekaligus mengendalikan dampak lingkungan. (Antara News)
Namun, muncul pertanyaan yang belakangan ini cukup banyak diperbincangkan masyarakat:
“Kalau gunung sampah ditutup rapat menggunakan terpal, bukankah gas metana di dalamnya bisa menumpuk dan menyebabkan ledakan?”
Pertanyaan ini bukanlah kekhawatiran yang berlebihan.
Justru, memahami bagaimana sampah menghasilkan gas merupakan bagian penting dari literasi kebencanaan dan lingkungan.
Sampah Tidak Pernah Benar-Benar “Diam”
Ketika sampah organik seperti sisa makanan, daun, kayu, atau limbah dapur tertimbun dalam jumlah besar, oksigen di dalam timbunan akan semakin berkurang. Kondisi ini memicu proses pembusukan secara anaerob yang menghasilkan berbagai gas, terutama:
- Metana (CH₄)
- Karbon dioksida (CO₂)
- Hidrogen sulfida (H₂S)
- Amonia (NH₃)
Di antara gas-gas tersebut, metana menjadi perhatian utama karena mudah terbakar dan merupakan salah satu gas rumah kaca yang memiliki efek pemanasan jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu tertentu.
Lalu Mengapa Gunung Sampah Harus Ditutup Terpal?
Dilansir dari (Antara News) tujuan utama program ini adalah:
- mengurangi bau yang menyebar ke permukiman,
- mengurangi masuknya air hujan sehingga produksi air lindi berkurang,
- mengurangi sampah beterbangan,
- membantu mengendalikan emisi gas,
- menjadi bagian dari sistem controlled landfill, yaitu metode yang lebih baik dibanding praktik open dumping.
Dengan kata lain, penutup tersebut bukan sekadar untuk estetika, tetapi merupakan bagian dari pengelolaan lingkungan.
Tapi Bagaimana dengan Risiko Gas Metana?
Inilah bagian yang paling penting.
Menutup timbunan sampah tidak menghentikan pembentukan gas metana.
Gas tersebut tetap akan dihasilkan selama bertahun-tahun karena proses dekomposisi organik masih terus berlangsung.
Apabila gas itu benar-benar terperangkap tanpa jalur pelepasan, beberapa risiko dapat muncul, antara lain:
- peningkatan tekanan di dalam timbunan,
- kebakaran bawah permukaan (subsurface fire),
- longsor timbunan akibat perubahan tekanan dan struktur,
- ledakan lokal apabila metana bercampur udara pada konsentrasi tertentu dan terdapat sumber api.
Karena itu, penutupan permukaan saja tidak cukup!
Kunci Keamanannya Ada pada Sistem Pengelolaan Gas
Pada TPA modern, geomembrane hampir selalu dipasang bersama sistem pengelolaan gas, misalnya:
- sumur penangkap gas (gas wells),
- pipa ventilasi,
- jaringan kolektor gas,
- sistem pembakaran (flare),
- atau pemanfaatan gas metana sebagai pembangkit listrik.
Dengan adanya sistem tersebut, gas metana tidak dibiarkan menumpuk di dalam timbunan.
Jadi, Apakah Penutupan Gunung Sampah ini Berbahaya?
Jawabannya bergantung pada satu hal penting:
Apakah sistem pengelolaan gasnya juga tersedia?
Jika penutupan dilakukan sebagai bagian dari sistem controlled landfill lengkap dengan pengelolaan gas dan air lindi, maka langkah tersebut merupakan praktik yang lebih baik dibanding membiarkan sampah terbuka.
Namun, apabila penutup hanya dipasang untuk mengurangi bau tidak sedap tanpa disertai pengendalian gas metana, maka potensi bahaya tentu tetap ada.
Artinya, keberhasilan sebuah TPA modern tidak diukur dari seberapa rapat sampah ditutup, tetapi dari seberapa baik gas dan limbah cair yang dihasilkannya dapat dikelola.
Mengapa Ini Penting bagi Mitigasi Bencana?
Di IDERU, kami memandang pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan bagian dari mitigasi risiko bencana.
Gunungan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu berbagai ancaman, seperti:
- kebakaran TPA,
- longsor timbunan sampah,
- pencemaran air tanah oleh lindi,
- pencemaran udara,
- emisi gas rumah kaca,
- hingga gangguan kesehatan masyarakat sekitar.
Peristiwa longsor di berbagai TPA di Indonesia menjadi pengingat, bahwa pengelolaan sampah harus dipandang sebagai isu keselamatan publik, bukan sekadar layanan kebersihan.
Penutup
Menutup gunung sampah menggunakan geomembrane bukanlah tindakan yang salah.
Namun, masyarakat juga perlu bukti nyata bahwa penutup tersebut hanyalah salah satu komponen.
Di balik lapisan geomembrane harus/wajib terdapat sistem pengelolaan gas metana, air lindi, dan pemantauan kondisi timbunan secara berkelanjutan.
Karena sampah tidak berhenti “hidup” ketika ditutup. Ia tetap mengalami proses biologis yang menghasilkan gas dan cairan selama puluhan tahun.
Karena itu, teknologi, pengawasan, dan komitmen pengelolaan menjadi faktor yang menentukan, apakah sebuah gunung sampah menjadi sumber masalah atau justru dapat diubah menjadi sumber energi dan lingkungan yang lebih aman.
IDERU mendorong pemerintah untuk bersikap lebih terbuka dalam memberi penjelasan terkait hal ini, agar tercipta rasa aman dan pemahaman yang lebih baik di masyarakat.
Jangan sampai hanya karena ada dukungan dana dari CSR mengenai program ini, lalu terjadi sikap abai terhadap mitigasi tentang hal ini.
Semoga tidak seperti itu.
Penulis: Irvan / 00-0003