Connect with us

Outdoor Activity

Pendakian Tektok: Tren Baru Pendaki Indonesia, Efisien atau Berisiko?

Published

on

pendakian tektok

Jam masih menunjukkan pukul dua dini hari. Di sebuah pos pendakian, puluhan lampu headlamp mulai bergerak membelah gelapnya hutan. Langkah mereka cepat, tas yang dibawa relatif ringan, dan targetnya jelas: mencapai puncak sebelum matahari meninggi, lalu turun kembali di hari yang sama.

Mereka bukan sedang melakukan pendakian ekspedisi, mereka juga tidak berencana mendirikan tenda di perjalanan.

Mereka sedang melakukan pendakian tektok!

Belakangan ini, istilah tersebut semakin sering muncul di media sosial. Video berdurasi singkat yang memperlihatkan seseorang berangkat dini hari, menikmati matahari terbit di puncak, lalu sudah kembali ke rumah pada malam harinya berhasil menarik jutaan penonton.

Bagi sebagian orang, konsep ini terdengar sangat menarik. Praktis, hemat waktu, dan tidak membutuhkan perlengkapan camping yang banyak.

Namun, di balik popularitasnya, muncul satu pertanyaan yang patut kita renungkan.

Apakah pendakian tektok benar-benar aman, atau justru menyimpan risiko yang sering tidak diharapkan?


Apa Itu Pendakian Tektok?

Pendakian tektok adalah aktivitas mendaki gunung dan kembali turun pada hari yang sama tanpa bermalam di jalur pendakian maupun di area puncak.

Model pendakian ini sebenarnya bukan hal baru. Banyak pendaki berpengalaman telah melakukannya sejak lama, terutama pada gunung dengan jalur yang relatif pendek atau memiliki estimasi pendakian yang memungkinkan untuk pulang di hari yang sama.

Yang sebenarnya baru adalah popularitasnya.

Media sosial yang membuat pendakian tektok menjadi sebuah tren.

Video singkat yang menampilkan perjalanan beberapa jam dipadatkan menjadi kurang dari satu menit, sehingga terlihat mudah dilakukan oleh siapa saja.

Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.


Mengapa Pendakian Tektok Semakin Populer?

Ada beberapa alasan mengapa tren ini berkembang pesat.

Pertama, keterbatasan waktu. Banyak orang hanya memiliki libur satu hari sehingga memilih pendakian tanpa bermalam.

Kedua, biaya yang lebih ringan. Pendaki tidak perlu membawa tenda, matras, sleeping bag, maupun logistik untuk menginap.

Ketiga, berkembangnya budaya media sosial. Konten matahari terbit dari puncak gunung sering kali menjadi daya tarik tersendiri yang mendorong semakin banyak orang mencoba pengalaman serupa.

Keempat, semakin baiknya akses menuju beberapa gunung di Indonesia, sehingga perjalanan pulang-pergi dalam satu hari menjadi lebih memungkinkan.

Semua alasan tersebut tentu dapat dipahami.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan.

Gunung tidak menjadi lebih mudah hanya karena kita memilih untuk tidak bermalam.


Sisi Positif Pendakian Tektok

Jika dilakukan dengan persiapan yang matang, pendakian tektok memiliki sejumlah keuntungan.

Pendaki dapat menghemat waktu tanpa harus mengambil cuti lebih panjang.

Beban tas menjadi lebih ringan sehingga perjalanan terasa lebih nyaman.

Risiko hipotermia akibat bermalam juga dapat berkurang pada kondisi tertentu.

Selain itu, aktivitas tanpa camping berpotensi mengurangi sampah yang tertinggal di kawasan pendakian, apabila setiap pendaki tetap memegang prinsip “Leave No Trace”.

Bagi pendaki berpengalaman yang memahami kondisi fisiknya serta karakter gunung yang didaki, pendakian tektok bisa menjadi pilihan yang efektif.

Namun, efektivitas bukan berarti tanpa risiko.


Risiko yang Sering Tidak Disadari

Salah satu dampak dari viralnya pendakian tektok adalah, munculnya anggapan bahwa mendaki gunung merupakan aktivitas yang sederhana.

Video berdurasi tiga puluh detik sering kali hanya memperlihatkan pemandangan indah di puncak gunung, sementara proses latihan fisik, perencanaan jalur, pengecekan prakiraan cuaca, hingga manajemen energi untuk tubuh sama sekali tidak terlihat.

Akibatnya, tidak sedikit pendaki pemula yang berpikir, “Kalau dia bisa, saya juga pasti bisa.”

Padahal setiap orang memiliki kondisi fisik, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda.

Selain itu, target untuk turun di hari yang sama sering membuat pendaki terjebak dalam tekanan waktu. Mereka terdorong untuk berjalan lebih cepat, mengabaikan rasa lelah, bahkan tetap melanjutkan perjalanan ketika cuaca mulai memburuk.

Padahal, banyak insiden di gunung justru terjadi saat perjalanan turun. Ketika tubuh mulai kehilangan tenaga, konsentrasi menurun, dan jalur licin akibat hujan, risiko terpeleset maupun cedera menjadi lebih besar.

Dalam kondisi seperti itu, keputusan untuk terus memaksakan diri bisa menjadi kesalahan yang sangat mahal.


Ketika Gunung Berubah Menjadi Latar Konten

Media sosial bukanlah musuh.

Banyak orang mengenal keindahan alam Indonesia justru melalui foto dan video yang dibagikan para pendaki.

Namun, ada perbedaan besar antara mendokumentasikan perjalanan dan menjadikan konten sebagai tujuan utama pendakian.

Ketika jumlah tayangan, jumlah suka, atau keinginan mengikuti tren menjadi motivasi utama, keputusan-keputusan di lapangan berisiko dipengaruhi oleh dorongan untuk menghasilkan konten yang menarik.

Berfoto di lokasi berbahaya, mengabaikan cuaca yang memburuk, hingga tetap mengejar puncak meski tubuh sudah kelelahan merupakan contoh keputusan yang seharusnya tidak terjadi.

Gunung bukan studio foto.

Gunung adalah lingkungan alam yang selalu memiliki risiko.


Tektok atau Camping, Mana yang Lebih Aman?

Pertanyaan ini sebenarnya kurang tepat.

Pendakian yang aman tidak ditentukan oleh apakah seseorang melakukan tektok atau bermalam.

Keselamatan ditentukan oleh kualitas persiapan, kemampuan membaca kondisi, serta keberanian mengambil keputusan yang tepat.

Pendaki yang membawa perlengkapan camping lengkap pun tetap dapat mengalami kecelakaan apabila memaksakan diri.

Sebaliknya, pendaki tektok yang memahami batas kemampuan, memiliki kondisi fisik yang baik, memantau cuaca, membawa perlengkapan darurat, serta bersedia membatalkan pendakian ketika situasi berubah dapat menjalankan aktivitasnya dengan jauh lebih aman.

Dengan kata lain, jenis pendakiannya bukanlah faktor utama. Cara mengambil keputusannyalah yang paling menentukan.


Tips Aman Jika Ingin Melakukan Pendakian Tektok

Apabila Anda berencana melakukan pendakian tektok, beberapa hal berikut sebaiknya menjadi perhatian.

  • Pilih gunung yang memang realistis untuk pendakian pulang-pergi dalam satu hari.
  • Latih kondisi fisik jauh sebelum hari pendakian.
  • Pelajari karakter jalur dan estimasi waktu secara realistis.
  • Pantau prakiraan cuaca sebelum berangkat.
  • Bawa perlengkapan darurat seperti jas hujan, senter, P3K, makanan cadangan, dan air yang cukup.
  • Jangan memaksakan mencapai puncak jika kondisi tubuh atau cuaca tidak mendukung.
  • Terapkan prinsip Leave No Trace dengan tidak meninggalkan sampah maupun merusak lingkungan.

Yang tidak kalah penting, jangan pernah merasa malu untuk berbalik arah.

Dalam dunia pendakian, keputusan untuk kembali sering kali merupakan tanda kedewasaan, bukan kegagalan.


Puncak Adalah Pilihan, Pulang dengan Selamat Adalah Kewajiban

Tren pendakian tektok kemungkinan akan terus berkembang. Semakin banyak orang yang ingin menikmati alam tanpa harus bermalam, dan hal tersebut merupakan pilihan yang sah selama dilakukan secara bertanggung jawab.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah.

Gunung bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling kuat, paling cepat, atau paling viral.

Gunung adalah tempat kita belajar menghargai alam, memahami batas kemampuan diri, dan mengambil keputusan dengan bijaksana.

Pada akhirnya, tidak ada foto puncak yang lebih berharga daripada bisa kembali memeluk keluarga dalam keadaan selamat.

Karena dalam dunia pendakian, puncak adalah pilihan. Pulang dengan selamat adalah kewajiban. 

..

Penulis: Irvan / 00-0003

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gabung IDERU Yuk!

Daftar Diksarnas IDERU
pendakian tektok
Outdoor Activity16 hours ago

Pendakian Tektok: Tren Baru Pendaki Indonesia, Efisien atau Berisiko?

compassion fatigue
Psikologi dan Kesehatan1 day ago

Compassion Fatigue: Ketika Relawan Lelah Secara Emosional, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Apa Bedanya Relawan dan Volunteer
Outdoor Activity2 days ago

Apa Bedanya Relawan dan Volunteer? Memangnya Beda ya?

Etika Memotret Korban Bencana
Mitigasi Bencana2 days ago

Etika Memotret Korban Bencana: Yuk Belajar Menghormati Manusia dan Keadaannya

Mengapa Kami Membuka Ruang Iklan
Advertorial5 days ago

Mengapa Kami Membuka Ruang Iklan? Kolaborasi Brand untuk Aksi Kemanusiaan

krisis pangan apa yang harus dilakukan
Mitigasi Bencana2 weeks ago

Jika Terjadi Krisis Pangan: Apa yang Harus Dilakukan Saat Semua Orang Kelaparan?

Gunung Anak Krakatau siaga
Mitigasi Bencana2 weeks ago

Gunung Anak Krakatau Naik ke Status Siaga, Warga Pesisir Diminta Tetap Tenang dan Waspada

12 Divisi IDERU
Profil Anggota IDERU2 weeks ago

12 Divisi IDERU: Satu Tim, Banyak Keahlian, Satu Misi Kemanusiaan

Jadi relawan tidak dibayar
Kegiatan IDERU2 weeks ago

Jadi Relawan kan Tidak Dibayar? Kok Mau Sih?

DIKSARNAS IDERU 6
Kegiatan IDERU2 weeks ago

Pendaftaran DIKSARNAS VI I-DERU 2026

Gelombang panas di eropa
Mitigasi Bencana3 weeks ago

Gelombang Panas di Eropa: Mengapa Terjadi, dan Apakah Indonesia Akan Terdampak?

Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU5 months ago

Laporan H+52 Tim IDERU Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera

Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung
Kegiatan IDERU6 months ago

IDERU H+7 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung

Tanah Longsor Cisarua Bandung
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan IDERU H+6 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung Barat

Perubahan Iklim6 months ago

Ketika Banjir Mengubah Perumahan Menjadi Lautan

Salju Turun di Tanah Papua
Perubahan Iklim6 months ago

Salju Turun di Tanah Papua

Jika Indonesia Blackout
Mitigasi Bencana6 months ago

Jika Indonesia Blackout, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Bencana Tanah Longsor Bandung
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Kegiatan H+4 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung

Layanan Kesehatan Gratis IDERU
Kegiatan IDERU6 months ago

Layanan Kesehatan Gratis IDERU Maninjau: Setitik Asa di Tengah Duka

Cara Menyiapkan Ransum Makanan
Mitigasi Bencana6 months ago

Cara Menyiapkan Ransum Makanan 1 Tahun dalam Mitigasi Keadaan Perang

Sinergi Basarnas IDERU Pecinta Alam
Kegiatan IDERU6 months ago

Sinergi Basarnas IDERU Pecinta Alam & Instansi Tanjung Balai Karimun

Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU6 months ago

Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera H.8

DPC SP KEP KSPI
Kegiatan IDERU6 months ago

DPC SP KEP KSPI Jakarta Timur Salurkan Donasi Melalui IDERU

Tanggap Bencana Banjir Maninjau
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Harian IDERU Operasi Tanggap Bencana Banjir Maninjau, 12 Januari 2026.

Bencana Banjir Bandang di Maninjau Sumatera
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Respon Bencana Banjir Bandang di Maninjau Sumatera H.1

Naiknya permukaan air laut
Perubahan Iklim6 months ago

Ketika Laut Mulai Menyelinap: Jakarta, Air, dan Pertarungan yang Tidak Seimbang

Mitigasi Bencana6 months ago

Jika Dunia Terbakar: Pesan IDERU untuk Indonesia Tentang Mitigasi Perang Nuklir

Bencana Banjir bandang Sumatera Laporan IDERU Rapid Response
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan IDERU Rapid Response Banjir Bandang Sumatera H+24

Dalam Senyap IDERU Tetap Bergerak
Kegiatan IDERU7 months ago

Dalam Senyap IDERU Tetap Bergerak – Laporan IDERU Rapid Response Banjir Bandang Sumatera H+16

Ponpes Al Bina
Kegiatan IDERU7 months ago

Emergency Response Plan di Ponpes Al Bina: Be Ready, Be Safe!

Kalau Perang Nuklir Terjadi
Mitigasi Bencana7 months ago

Kalau Perang Nuklir Terjadi, Kita Harus Ngapain?

Virus Nipah Ancaman yang Datang Tanpa Suara
Mitigasi Bencana7 months ago

Virus Nipah Ancaman yang Datang Tanpa Suara

IDERU Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU7 months ago

Catatan Lapangan IDERU dari Banjir Bandang Sumatera: Ketika Air Mengambil Segalanya

kegagalan komunikasi bencana
Mitigasi Bencana7 months ago

Krisis Kegagalan Komunikasi Bencana di Sumatera: Saat Sosmed Lebih Dipercaya Dibanding Komunikasi Pemerintah

Trauma Psikologis Para Penyintas
Mitigasi Bencana7 months ago

Trauma Psikologis Para Penyintas: Sering Terlihat… tapi Tidak Pernah Dibahas

Strategi Penanggulangan Bencana oleh Kalaksana BPBD Natuna Raja Darmika - Waspada Banjir Rob Natuna
News8 months ago

Waspada Banjir Rob Natuna 5–10 Desember: Warga Pesisir Diminta Siaga

Mangrove Garda Terdepan Saat Badai Datang
Konservasi dan Lingkungan8 months ago

Mangrove Garda Terdepan Saat Badai Datang

Fenomena Langka di Selat Malaka Siklon Tropis Senyar dan Koto
Mitigasi Bencana8 months ago

Fenomena Langka di Selat Malaka: Siklon Tropis Hadir di Tempat yang Tak Biasa

90 Hari Pertama Pasca Bencana
Mitigasi Bencana8 months ago

90 Hari Pertama Pasca Bencana: Apa yang harus dilakukan?

Pray for Sumatera
Kegiatan IDERU8 months ago

Pray for Sumatera: Duka Bersama, Aksi Bersama

IDERU Payakumbuh Berbagi Ilmu Pertolongan Pertama untuk Relawan
Kegiatan IDERU8 months ago

IDERU Payakumbuh Berbagi Ilmu Pertolongan Pertama untuk Relawan

Bambu Bisa Jadi Penyelamat Lingkungan
Konservasi dan Lingkungan1 year ago

Bambu Bisa Jadi Penyelamat Lingkungan: Berikut 11 Alasannya

Teknologi AI Untuk Relawan
Mitigasi Bencana1 year ago

Teknologi AI Untuk Relawan: 6 Alasan Kenapa Kita Harus Memakainya

AI Bisa menimbulkan bencana sosial
Mitigasi Bencana1 year ago

7 Hal penting Kenapa AI Bisa Menimbulkan Bencana Sosial

Terkena Rabies
Mitigasi Bencana1 year ago

Terkena Rabies dan Cara Penanganannya: Jangan Sampai Telat!

Bahaya yang Mengintai di Dapur
Mitigasi Bencana1 year ago

Bahaya yang Mengintai di Dapur

pisang terancam punah
Konservasi dan Lingkungan1 year ago

Pisang Terancam Punah: Ancaman dan Penyebabnya

Apel Siaga Lebaran
Kegiatan IDERU1 year ago

Apel Siaga Lebaran USS BASARNAS Banyumas, IDERU, BHV

Cilacap Ramadhan Camp
Kegiatan IDERU1 year ago

Ramadhan Camp: Edukasi Lingkungan di Bulan Suci

Fire Starter
Tips and Trik1 year ago

Panduan Lengkap Penggunaan Fire Starter atau Fire Striker

Gabung IDERU Yuk!

Gabung ke IDERU Diksarnas 6 2026