Connect with us

Psikologi dan Kesehatan

Compassion Fatigue: Ketika Relawan Lelah Secara Emosional, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Published

on

compassion fatigue

Malam itu hampir pukul dua dini hari.

Posko pengungsian mulai sunyi. Anak-anak yang sejak sore berlarian kini sudah terlelap di atas kasur lipat. Hanya terdengar suara genset yang sesekali meraung memecah keheningan.

Seorang relawan duduk sendirian di depan tenda.

Di tangannya masih ada segelas kopi yang sejak satu jam lalu tak lagi disentuh.

Tatapannya kosong.

Bukan karena mengantuk.

Bukan pula karena kelelahan fisik.

Ia baru saja mengantar seorang anak ke rumah sakit lapangan. Anak itu tidak berhasil diselamatkan.

Padahal tiga hari sebelumnya ia masih sempat bercanda bersama anak tersebut.

Seorang relawan lain menghampirinya.

“Ayo istirahat.”

Ia hanya menggeleng pelan.

“Saya capek…”

“Lembur terus ya?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Saya capek… lihat orang terus kehilangan.”

Kalimat itu singkat.

Namun di baliknya, ada sesuatu yang jarang dibicarakan.

Yaitu: Compassion Fatigue.


Ketika Kepedulian Mulai Menguras Diri Sendiri

Menjadi relawan sering dipandang sebagai pekerjaan yang penuh makna.

Membantu korban bencana.

Mendistribusikan bantuan.

Mengevakuasi warga.

Menenangkan anak-anak yang kehilangan orang tuanya.

Semuanya terdengar mulia.

Namun sedikit orang yang menyadari bahwa orang yang terus-menerus menyaksikan penderitaan juga bisa terluka, meski luka itu tidak terlihat.

Itulah yang disebut compassion fatigue.


Apa Itu Compassion Fatigue?

Compassion fatigue adalah kondisi kelelahan emosional, mental, bahkan fisik akibat terus-menerus menghadapi penderitaan orang lain.

Istilah ini sering dialami oleh:

  • relawan kemanusiaan
  • tenaga kesehatan
  • petugas ambulans
  • perawat
  • dokter
  • psikolog
  • pekerja sosial
  • petugas SAR
  • petugas pemadam kebakaran

Mereka bukan kehilangan rasa peduli.

Justru karena terlalu peduli.

Empati yang terus diberikan tanpa jeda dapat menguras energi emosional hingga akhirnya seseorang merasa kosong.


“Saya Masih Mau Membantu, Tapi Hati Saya Sudah Tidak Kuat”

Banyak relawan merasa bersalah ketika mulai kehilangan semangat.

Padahal sebelumnya mereka begitu berapi-api.

Mereka mulai bertanya dalam hati.

“Kenapa sekarang saya malas turun ke lapangan?”

“Kenapa saya tidak sesedih dulu melihat korban?”

“Apakah saya sudah tidak peduli?”

Jawabannya sering kali bukan.

Yang terjadi adalah tubuh dan pikiran sedang meminta waktu untuk pulih.


Tanda-Tanda Compassion Fatigue

Gejalanya sering muncul perlahan sehingga tidak disadari.

Beberapa di antaranya adalah:

Merasa Sangat Lelah Meski Baru Bangun Tidur

Tidur cukup, tetapi tubuh tetap terasa berat.

Bukan karena kurang istirahat.

Melainkan karena emosi yang terus bekerja tanpa henti.


Menjadi Lebih Mudah Marah

Hal-hal kecil yang dulu bisa ditoleransi kini terasa mengganggu.

Suara bising.

Antrean.

Pertanyaan sederhana.

Semuanya terasa melelahkan.


Kehilangan Empati

Ini adalah tanda yang sering membuat relawan merasa bersalah.

Korban menangis.

Tetapi hati terasa datar.

Bukan karena tidak peduli.

Melainkan karena kapasitas emosional sudah terlalu penuh.


Sulit Tidur

Banyak relawan mengaku masih teringat wajah korban saat hendak tidur.

Ada yang terus memikirkan kejadian di lapangan.

Ada pula yang bermimpi tentang peristiwa yang dialami korban.


Menarik Diri dari Lingkungan

Telepon tidak diangkat.

Pesan dibiarkan.

Ajakan bertemu ditolak.

Bukan karena membenci orang lain.

Melainkan karena energi sosial sudah habis.


Mengapa Relawan Sangat Rentan?

Relawan sering berada di garis depan.

Mereka melihat hal-hal yang tidak dilihat masyarakat.

Rumah yang rata dengan tanah.

Orang tua yang kehilangan anak.

Anak kecil yang kehilangan seluruh keluarganya.

Tangisan.

Ketakutan.

Harapan.

Semua itu masuk ke dalam ingatan.

Hari demi hari.

Bencana demi bencana.

Tanpa disadari, setiap pengalaman meninggalkan jejak emosional.


Bukan Lemah, Tetapi Terlalu Lama Menahan

Masih ada anggapan bahwa relawan harus selalu kuat.

Tidak boleh menangis, mengeluh dan bahkan tidak boleh terlihat lemah!

Padahal relawan tetaplah manusia.

Mereka juga memiliki batas.

Sama seperti tubuh yang bisa kelelahan setelah mengangkat beban berat, hati juga bisa lelah setelah terlalu lama memikul penderitaan orang lain.

Mengakui bahwa diri sedang lelah bukanlah tanda kelemahan.

Justru itu adalah bentuk keberanian.


Bagaimana Cara Mencegah Compassion Fatigue?

1. Berani Beristirahat

Relawan sering merasa bersalah ketika mengambil waktu istirahat.

Padahal tubuh dan pikiran membutuhkan jeda.

Beristirahat bukan berarti meninggalkan misi kemanusiaan.

Beristirahat adalah bagian dari menjaga agar tetap mampu membantu dalam jangka panjang.


2. Jangan Memendam Cerita Sendirian

Setelah bertugas, luangkan waktu untuk berbicara dengan sesama relawan atau orang yang dipercaya.

Menceritakan pengalaman bukan berarti mengeluh.

Itu adalah cara sehat untuk melepaskan beban emosional.


3. Jaga Kehidupan di Luar Posko

Luangkan waktu bersama keluarga.

Berolahraga.

Membaca buku.

Menonton film.

Melakukan hobi.

Relawan juga berhak menikmati hidup.


4. Sadari Bahwa Tidak Semua Orang Bisa Diselamatkan

Ini mungkin pelajaran paling berat.

Relawan akan berusaha semaksimal mungkin.

Namun hasil akhir tidak selalu berada dalam kendali manusia.

Menerima kenyataan tersebut membantu mengurangi beban rasa bersalah yang sering menghantui.


5. Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional

Jika kelelahan emosional mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental.

Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.


Relawan Juga Butuh Dirangkul

Kita sering melihat relawan memeluk korban.

Menenangkan anak-anak.

Membagikan makanan.

Mengangkat tandu.

Namun jarang ada yang bertanya.

“Bagaimana kabar relawannya?”

Padahal mereka juga bisa menangis.

Mereka juga bisa takut.

Mereka juga bisa kehilangan semangat.

Kadang, orang yang paling sering menguatkan justru paling jarang ditanya apakah ia baik-baik saja.


Menolong Tidak Harus Mengorbankan Diri Sendiri

Ada sebuah kalimat yang sering digunakan dalam dunia pertolongan pertama.

“Pastikan diri Anda aman sebelum menolong orang lain.”

Prinsip itu ternyata tidak hanya berlaku untuk keselamatan fisik.

Ia juga berlaku untuk kesehatan mental.

Karena relawan yang terus memaksa dirinya tanpa jeda berisiko kehilangan kemampuan untuk membantu orang lain.

Merawat diri bukanlah tindakan egois.

Justru itulah cara agar kepedulian tetap hidup.


Penutup

Tidak semua luka bisa dilihat oleh mata. Ada luka yang tumbuh perlahan di balik senyum seorang relawan, tersembunyi di balik rompi yang selalu siap dipakai, dan tertutup oleh semangat untuk terus membantu.

Compassion fatigue mengingatkan kita bahwa orang yang paling sering menguatkan orang lain juga membutuhkan ruang untuk dipulihkan. Kepedulian yang besar adalah anugerah, tetapi tanpa keseimbangan, kepedulian itu dapat berubah menjadi beban yang menguras hati.

Jika Anda seorang relawan atau sedang berniat ingin menjadi relawan, ingatlah bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti mengurangi dedikasi. Sebaliknya, itu adalah investasi agar Anda tetap mampu hadir ketika masyarakat kembali membutuhkan.

Karena pada akhirnya, relawan yang sehat, baik fisik maupun emosional, akan mampu memberikan pertolongan yang lebih baik, lebih bijaksana, dan lebih manusiawi.


FAQ

Apakah compassion fatigue sama dengan burnout?

Tidak. Burnout umumnya berkaitan dengan stres kerja yang berkepanjangan, sedangkan compassion fatigue lebih spesifik muncul akibat paparan terus-menerus terhadap penderitaan orang lain.

Siapa yang berisiko mengalami compassion fatigue?

Relawan, tenaga kesehatan, petugas SAR, pemadam kebakaran, pekerja sosial, psikolog, perawat, dokter, dan siapa pun yang sering mendampingi orang dalam kondisi traumatis.

Apakah compassion fatigue bisa disembuhkan?

Ya. Dengan istirahat yang cukup, dukungan sosial, manajemen stres yang baik, serta bantuan profesional bila diperlukan, banyak orang dapat pulih dan kembali menjalankan perannya dengan sehat.

Apakah merasa lelah secara emosional berarti tidak cocok menjadi relawan?

Tidak. Justru kelelahan emosional sering dialami oleh orang-orang yang memiliki empati tinggi. Yang terpenting adalah mengenali tanda-tandanya sejak dini dan tidak mengabaikan kebutuhan untuk merawat diri.

Penulis: Irvan / 00-0003

 

Compassion Fatigue

 

 

Jadi Relawan kan Tidak Dibayar? Kok Mau Sih?

 

Trauma Psikologis Para Penyintas: Sering Terlihat… tapi Tidak Pernah Dibahas

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

compassion fatigue
Psikologi dan Kesehatan10 hours ago

Compassion Fatigue: Ketika Relawan Lelah Secara Emosional, Bagaimana Cara Mengatasinya?

Apa Bedanya Relawan dan Volunteer
Outdoor Activity15 hours ago

Apa Bedanya Relawan dan Volunteer? Memangnya Beda ya?

Etika Memotret Korban Bencana
Mitigasi Bencana1 day ago

Etika Memotret Korban Bencana: Yuk Belajar Menghormati Manusia dan Keadaannya

krisis pangan apa yang harus dilakukan
Mitigasi Bencana1 week ago

Jika Terjadi Krisis Pangan: Apa yang Harus Dilakukan Saat Semua Orang Kelaparan?

12 Divisi IDERU
Profil Anggota IDERU2 weeks ago

12 Divisi IDERU: Satu Tim, Banyak Keahlian, Satu Misi Kemanusiaan

Jadi relawan tidak dibayar
Kegiatan IDERU2 weeks ago

Jadi Relawan kan Tidak Dibayar? Kok Mau Sih?

DIKSARNAS IDERU 6
Kegiatan IDERU2 weeks ago

Pendaftaran DIKSARNAS VI I-DERU 2026

Gelombang panas di eropa
Mitigasi Bencana3 weeks ago

Gelombang Panas di Eropa: Mengapa Terjadi, dan Apakah Indonesia Akan Terdampak?

Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU5 months ago

Laporan H+52 Tim IDERU Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera

Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung
Kegiatan IDERU5 months ago

IDERU H+7 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung

Tanah Longsor Cisarua Bandung
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan IDERU H+6 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung Barat

Perubahan Iklim6 months ago

Ketika Banjir Mengubah Perumahan Menjadi Lautan

Salju Turun di Tanah Papua
Perubahan Iklim6 months ago

Salju Turun di Tanah Papua

Jika Indonesia Blackout
Mitigasi Bencana6 months ago

Jika Indonesia Blackout, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Bencana Tanah Longsor Bandung
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Kegiatan H+4 Respon Bencana Tanah Longsor Cisarua Bandung

Layanan Kesehatan Gratis IDERU
Kegiatan IDERU6 months ago

Layanan Kesehatan Gratis IDERU Maninjau: Setitik Asa di Tengah Duka

Cara Menyiapkan Ransum Makanan
Mitigasi Bencana6 months ago

Cara Menyiapkan Ransum Makanan 1 Tahun dalam Mitigasi Keadaan Perang

Sinergi Basarnas IDERU Pecinta Alam
Kegiatan IDERU6 months ago

Sinergi Basarnas IDERU Pecinta Alam & Instansi Tanjung Balai Karimun

Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU6 months ago

Respon Bencana Banjir Bandang Sumatera H.8

DPC SP KEP KSPI
Kegiatan IDERU6 months ago

DPC SP KEP KSPI Jakarta Timur Salurkan Donasi Melalui IDERU

Tanggap Bencana Banjir Maninjau
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Harian IDERU Operasi Tanggap Bencana Banjir Maninjau, 12 Januari 2026.

Bencana Banjir Bandang di Maninjau Sumatera
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan Respon Bencana Banjir Bandang di Maninjau Sumatera H.1

Naiknya permukaan air laut
Perubahan Iklim6 months ago

Ketika Laut Mulai Menyelinap: Jakarta, Air, dan Pertarungan yang Tidak Seimbang

Mitigasi Bencana6 months ago

Jika Dunia Terbakar: Pesan IDERU untuk Indonesia Tentang Mitigasi Perang Nuklir

Bencana Banjir bandang Sumatera Laporan IDERU Rapid Response
Kegiatan IDERU6 months ago

Laporan IDERU Rapid Response Banjir Bandang Sumatera H+24

Dalam Senyap IDERU Tetap Bergerak
Kegiatan IDERU7 months ago

Dalam Senyap IDERU Tetap Bergerak – Laporan IDERU Rapid Response Banjir Bandang Sumatera H+16

Ponpes Al Bina
Kegiatan IDERU7 months ago

Emergency Response Plan di Ponpes Al Bina: Be Ready, Be Safe!

Kalau Perang Nuklir Terjadi
Mitigasi Bencana7 months ago

Kalau Perang Nuklir Terjadi, Kita Harus Ngapain?

Virus Nipah Ancaman yang Datang Tanpa Suara
Mitigasi Bencana7 months ago

Virus Nipah Ancaman yang Datang Tanpa Suara

IDERU Banjir Bandang Sumatera
Kegiatan IDERU7 months ago

Catatan Lapangan IDERU dari Banjir Bandang Sumatera: Ketika Air Mengambil Segalanya

kegagalan komunikasi bencana
Mitigasi Bencana7 months ago

Krisis Kegagalan Komunikasi Bencana di Sumatera: Saat Sosmed Lebih Dipercaya Dibanding Komunikasi Pemerintah

Trauma Psikologis Para Penyintas
Mitigasi Bencana7 months ago

Trauma Psikologis Para Penyintas: Sering Terlihat… tapi Tidak Pernah Dibahas

Strategi Penanggulangan Bencana oleh Kalaksana BPBD Natuna Raja Darmika - Waspada Banjir Rob Natuna
News7 months ago

Waspada Banjir Rob Natuna 5–10 Desember: Warga Pesisir Diminta Siaga

Mangrove Garda Terdepan Saat Badai Datang
Konservasi dan Lingkungan8 months ago

Mangrove Garda Terdepan Saat Badai Datang

Fenomena Langka di Selat Malaka Siklon Tropis Senyar dan Koto
Mitigasi Bencana8 months ago

Fenomena Langka di Selat Malaka: Siklon Tropis Hadir di Tempat yang Tak Biasa

90 Hari Pertama Pasca Bencana
Mitigasi Bencana8 months ago

90 Hari Pertama Pasca Bencana: Apa yang harus dilakukan?

Pray for Sumatera
Kegiatan IDERU8 months ago

Pray for Sumatera: Duka Bersama, Aksi Bersama

IDERU Payakumbuh Berbagi Ilmu Pertolongan Pertama untuk Relawan
Kegiatan IDERU8 months ago

IDERU Payakumbuh Berbagi Ilmu Pertolongan Pertama untuk Relawan

Bambu Bisa Jadi Penyelamat Lingkungan
Konservasi dan Lingkungan1 year ago

Bambu Bisa Jadi Penyelamat Lingkungan: Berikut 11 Alasannya

Teknologi AI Untuk Relawan
Mitigasi Bencana1 year ago

Teknologi AI Untuk Relawan: 6 Alasan Kenapa Kita Harus Memakainya

AI Bisa menimbulkan bencana sosial
Mitigasi Bencana1 year ago

7 Hal penting Kenapa AI Bisa Menimbulkan Bencana Sosial

Terkena Rabies
Mitigasi Bencana1 year ago

Terkena Rabies dan Cara Penanganannya: Jangan Sampai Telat!

Bahaya yang Mengintai di Dapur
Mitigasi Bencana1 year ago

Bahaya yang Mengintai di Dapur

pisang terancam punah
Konservasi dan Lingkungan1 year ago

Pisang Terancam Punah: Ancaman dan Penyebabnya

Apel Siaga Lebaran
Kegiatan IDERU1 year ago

Apel Siaga Lebaran USS BASARNAS Banyumas, IDERU, BHV

Cilacap Ramadhan Camp
Kegiatan IDERU1 year ago

Ramadhan Camp: Edukasi Lingkungan di Bulan Suci

Fire Starter
Tips and Trik1 year ago

Panduan Lengkap Penggunaan Fire Starter atau Fire Striker

Tanaman Kaliandra
Konservasi dan Lingkungan1 year ago

Tanaman Kaliandra: Invasif atau Sumber Energi Terbarukan?

Memilih Pisau Survival
Outdoor Activity1 year ago

Memilih Pisau Survival yang Tepat

panduan memilih tenda
Outdoor Activity1 year ago

Panduan Memilih Tenda Backpacking yang Tepat

Gabung IDERU Yuk!

Daftar Diksarnas IDERU